Selamat Datang

Terimakasih karena Anda bersedia membaca refleksi berikut ini........

Senin, 23 Agustus 2010

Kasihilah Sesamamu Manusia (Roma 13:8-10)


I. Pengantar Kitab Roma
Kitab Roma adalah kitab doktrinal tulisan Rasul Paulus yang paling logis dan sistematis. Paulus menulis surat ini dalam rangka pelayanan rasulinya kepada dunia bukan Yahudi. Maksud daripada penulisan kitab ini adalah untuk menangani permasalahan di gereja Roma anatara orang Yahudi yang percaya dan orang Kafir yang percaya. Ini barangkali adalah akibat dari pengusiran seluruh orang Yahudi dari wilayah Roma dan kembalinya mereka di kemudian hari. Pada saat itu pemimpin-pemimpin Yahudi-Kristen telah digantikan oleh pemimpin-pemimpin Kristen dari bangsa kafir.

II. Tafsiran
2.1 Mengasihi Sesama Lebih dari Membayar Hutang
Dalam ayat ini diterangkan bahwa setiap orang harus saling mengasihi. Bila kita perhatikan, kalimat pertama dalam ayat ini seperti kurang berhubungan (“janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi”). Terjemahan LAI kurang tepat, sehingga seharusnya berbunyi: Janganlah kamu berhutang kepada siapapun juga, kecuali dalam hal saling mengasihi. Artinya, Paulus menasihatkan bahwa kita mesti melunasi segala kewajiban terhadap semua orang. Hanya, ada satu kewajiban yang tidak mungkin dilunasi sampai habis, yaitu kewajiban untuk mengasihi sesama. Mengapa? Sebab KASIH—berbeda dengan utang—setiap hari merupaka tugas baru yang tidak pernah selesai secara tuntas. Maka di sini Paulus berkata: ‘hendaklah kamu saling mengasihi terus-menerus’.

Kalimat “mengasihi sesama manusia” berarti dalam lingkungan semua orang, entah itu Kristen ataupun tidak. Ini bisa kita pahami dari kata siapa pun juga. Kata “sesama” bukan seseorang yang kita pilih supaya dia kita kasihi, melainkan siapapun yang kebetulan kita hadapi, biar musuh kita. Biasanya, seseorang mengasihi orang yang berjasa kepadanya, mengasihi anak-istri, mengasihi orang yang memiliki hubungan bisnis ataupun hubungan lain. Kasih semacam ini tidak tahan kecewa, sebab ketika dia tidak berjasa lagi, kasih itu bisa lenyap. Tetapi, yang dituntut dari orang percaya lebih dari itu, sebab menurut nas ini kasih bukan soal perasaan melainkan kemauan serta perbuatan.

2.2 Kasih tidak Berbuat Jahat Terhadap Sesama Manusia
Mengasihi dan berbuat jahat merupakan dua perbuatan yang saling bertentangan. Dengan melakukan kewajiban mengasihi, perbuatan jahat akan menjadi larangan yang utama. Jika kita membantu seseorang karena kita menginginkan sesuatu daripanya, itu bukan mengasihi. jika kita seolah-olah mengasihi seseorang, padahal di belakangnya kita memfitnahnya, itu bukan perbuatan kasih. Sebaliknya, kasih menghindarkan kita dari perbuatan-perbuatan duniawi. Itulah yang hendak diterangkan dalam ayat 9, bahwa seluruh larangan yang ada dalam Hukum Taurat tidak akan dilakukan oleh seseorang yang melakukan kasih. Semua perbuatan yang dilarang dalam Hukum Taurat adalah perbuatan jahat, sehingga seseorang yang melanggarnya belum mengenal kasih yang sejati.

2.3 Mengasihi Sesama seperti Mengasihi diri Sendiri
Dalam kenyataan manusia mengutamakan kepentingan diri sendiri, dan segala sesuatu dikorbankannya demi kepntingannya sendiri. Pengabdian seperti itulah yang dituntut oleh Injil demi kepentingan sesama manusia. lalu, ketika kita berusaha untuk sungguh-sungguh memenuhi tuntutan itu, dengan sendirinya jangkauannya yang sebenarnya akan menjadi nyata. sebab pengabdian kepada sesama kita akan mendesak mundur pengabdian kita kepada diri sendiri. Seorang manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: kalau ia mengabdi kepada sesamanya, ia tak dapat lagi mengabdi kepada dirinya sendiri.

2.4 Mengasihi Sesama berarti Memenuhi Hukum Taurat
Setiap orang yang melakukan perintah ini sudah memenuhi Hukum Taurat. Namun, bukan berarti Hukum Taurat tidak perlu lagi dilaksanakan, sebab justru orang yang melakukan Hukum Taurat-lah yang mampu mengasihi sesama secara terus-menerus. Menurut Paulus, Taurat tidak dihapuskan, melainkan justru diteguhkan (Rm. 3:31). Larangan-larangan dalam Taurat itulah yang mengarahkan kasih itu. Memang ada Roh Kudus yang diam di dalam kita dan mengendalikan perbuatan kita. namun tujuan kehadiranNya ialah supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita (8:4). Tanpa kaidah hukum Taurat, mudah sekali dorongan hati atau malah nafsu kita sendiri kita anggap sebagai ilham Roh Kudus. Kesimpulannya, hukum Taurat harus dilaksanakan, tetapi jangan lupa bahwa makna dai semua itu adalah kasih. Bisa saja seseorang mengaku melakukan hukum Taurat tetapi akhirnya merugikan orang lain, itu karena tidak dilandaskan pada kasih. Jadi, kasih dan hukum Taurat saling berhubungan erat. Taurat mengarahkan kita untuk mengenal suara Roh Kudus sehingga kita dapat mengasihi dengan cara yang benar. Kasih menjadi dasar bagi kita untuk melakukan semua hukum Taurat, sehingga tepatlah bawa kasih merupakan kegenapan hukum Taurat.


III. Bahan Refleksi
  • Sering sekali terjadi perseteruan di dalam diri jemaat, bahkan percekcokan. Ini bukanlah buah kasih, melainkan perbuatan jahat.
  • Di gereja, di kantor, di pasar, di sekolah, di paradaton, dan di segala tempat harus menunjukkan kasih.
  • Sifat egois bisa menghapuskan kasih dari dalam diri, sebab kasih itu merupakan pengabdian kepada sesama. Karena itu, utamakanlah kepentingan orang lain.
  • Banyak perilaku praktis yang bertentangan dengan kasih, misalnya mengambil hak orang, memfitnah, mengata-ngatain teman, menjatuhkan teman, dll. Perilaku negatif itu harus dikikis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar